Tak Utuh Mengenalmu

Otakku gaduh, hatiku rusuh.
Tapi tak tahu, kata apa yang harus dipilih agar mengantarkanku pada cerita yang menyeluruh.


Diam.
Diam terpaku, menatap layar kecil yang lapisnya semakin lusuh.


Sepuluh menit kemudian.
Diam. Masih memendam keluh.



Tujuh belas menit kemudian. Kali ini aku janji, jariku akan menuliskannya walau dengan kalimat yang tak utuh dan rapuh.



Kita cuma bisa mengandalkan teknologi untuk menyikap jarak yang jauh. Kita cuma punya dua puluh enam huruf untuk kita pilah, dijadikan kata, dijadikan kalimat agar sampai dengan cepat. Kita tak punya jatah berjumpa yang banyak. Kita maya.



....dan dirimu semakin maya, semakin susah direngkuh. Kau punya kesibukan. Aku tahu kapan kamu berangkat dan tahu kapan kamu akan pulang, aku juga tahu perihal delapan jam depan laptop yang kamu selalu paksa untuk aku bayangkan.



Semenjemukan itukah? Sesepaneng itukah? Tiada gerak tiada cerita lain seperti :



Aku ikut jadi relawan di acara kantor; tadi di kantor kocak ada yang nyanyi-nyanyi pakai biola; Aku habis donor darah nih di kantor; tadi di kantor ada dua teman, satu lelaki dan satu perempuan yang gak sengaja pakai baju kembar warnanya, lalu heboh, dibuat bercandaan; tadi di kantor aku dapat cokelat krn valentine; tadi di kantor aku dapat traktiran teman di hanamasa; aku di kantor dekat sama si ini itu.



Tidakkah kau ingin berbagi cerita bahagia yang terselip di hari-harimu? Agar aku utuh mengenalmu? Agar tak sebatas pulang, duduk, dan pergi? Aku hanya ingin mengenalmu secara utuh. Merasakan menjadi tempatmu berbagi. Itu saja.

Kosong

Aku benci pikiranku dan diriku disepanjang senja prujukan.

Jangan Salah

 
"Beruntungnya orang yang hidup dibalik tulisanmu."

Satu kali. Dua kali. Tiga kali dan untuk keberkian kali kalimat tersebut muncul untukku. Ingin tahu reaksiku? Aku meringis kecut dan ingin memberi tahu sesuatu untukmu:

Begini, bagi sebagian penulis, asmara dan aksara adalah sepaket kesedihan juga kelegaan. Keterpurukan juga pekerjaan. Kamu tahu beberapa penulis besar itu? Lang Leav, Aan, Boy Candra? Mereka lahir dengan ciptaan- ciptaannya yang memilukan dan kental dengan pengharapan pada sosok yang mereka kagumi bertahun- tahun. Tulisan mereka pun telah beredar di toko- toko buku, sudah diterjemahkan ke bahasa lain, tapi tulisan mereka tetap tak menyelamatkan apapun, bukan?

Ingin tahu juga reaksi sosok yang dituju? Sosok- sosok yang dituliskan tidak pernah merasa beruntung seperti kalimat yang kamu katakan melulu untukku. Mereka menganggap penulis hanyalah pencipta omong kosong dengan pilihan diksi paling elok untuk merayu. Bahkan mereka kadang tidak peduli dan tak ingin menyempatkan waktu membaca tulisan yang ditujukan-atau sebenarnya tentang dirinya- apalagi untuk sekadar menyadari. Sedikit. Sedikit sekali jumlahnya yang tidak begitu.

Tragisnya. Bisa jadi sampai penulis menghentikan tulisannya. Orang yang dihidupkan dalam setiap rangkaian kata tetap tidak tahu dan tidak akan pernah tahu. 

Begitulah hidup.
Orang lain melihat seseorang beruntung, tapi yang bersangkutan tak mengira dirinya beruntung.  




 

:)

 
Bersemuka 
yang
selalu
ingin…


Memberi
tanda
pada
penanggalan
duduk
menjadikan
setiap
pusaran
waktu
untuk
menyambut
sebuah
kedatangan
kembali.

Barangkali
bulan
baru..

---

Masih
gemar
membilang
dengan
tenang
sejak
bertahun-
tahun
lalu

:)

AKU INGIN



Segalanya cantik.
Puisinya.
Musikalisasinya.

Terimakasih Tuhan telah menciptakan manusia luar biasa rupa Sapardi Djoko Damono dan Ari Reda, dan mengenalkanku kepada mereka walau hanya melalui karya. Kelak- semoga ada sempat untuk berjumpa.

Amin

Hari Kesepuluh, Bulan Keempat, Dua Ribu Tujuh Belas

Hari kesepuluh- bulan keempat telah dinamai sebagai pengulangan waktu kelahiranku. Pada setiap pengulangannya selalu ada hal mengesankan dengan ritme yang tak pernah sama. Kalau boleh jujur aku takut dengan hari tersebut, bagiku ia seolah berseru tentang kematian, sedangkan aku masih belum menggenggam bekal apapun.

Takut bukan berarti tidak menyukai, sebab realitasnya aku memang bernafas dengan banyak manusia yang menyukai perayaan. Perayaan adalah kebahagian sementara ketakutan hanya perlu dipendam di dasar paling jauh tanpa melupakan cara untuk terus memperbaiki hal-hal cacat dalam diri- itu yang kini aku pegang teguh agar sanggup bersikap menghargai.

Sehingga tak hayal, perayaan itu istimewa. Ucapan ulang tahun pun juga memiliki posisi yang sama. Karena perlu disadari, setiap orang memiliki aneka cara untuk menyunggingkan senyum kita di satu hari- sebuah hari yang menurut kita sakral bagi diri kita sendiri.

Dua ribu tujuh belas.
Kali ini banyak hal yang mengesankan.

Aku dapat kamera mirroless dari orang tua. Tidak seratus persen. Tapi bagiku seratus persen. Apa maksudnya? Jadi begini, semenjak kecil aku dibiasakan oleh orang tua untuk menabung dahulu jika memimpikan apa- apa. Konon biar aku tahu rasanya berusaha dan mencintai sungguh- sungguh apa yang sanggup dibeli saat sudah dimiliki. Yap, seperti barang- barang lainya, mirroless- kuawali dengan menyisihkan uang sakuku sedikit demi sedikit, kemudian digenapi oleh orang tua tepat saat tanggal sepuluh ini, "Kamu ada uang berapa, Ibu Ayah tambahi buat pergi ke toko kamera hari ini?"

Ah, pertanyaan dari ujung telpon tersebut mendadak membuat perasaan meletup- letup bahagia. Singkat cerita, aku pergi ke toko kamera hari itu juga setelah berkeliling mencari yang pas. Lav.

 

Kedua, kakakku- kakak ipar- dan keponakan paling menggemaskan merayakan ulang tahunku di sebuah restaurant yang kami suka. Ini memang sudah jadi rutinitas semenjak kami sama- sama tinggal di Malang.


Ketiga, sahabat kuliah. Kali ini aku ditipu. Salah satu temanku yang sama-sama mendedikasikan diri sebagai penyuka es krim mengajakku ke sebuah kedai es krim. Dia memintaku untuk menemani dan menggilas kesemrawutan pikiran akibat penelitian, karena satu nasib aku setuju dengan ajakannya. Ternyata saat sampai kedai, di lantai dua beberapa teman telah bersorak-sorak menyambutku sambil menyajikan waffle bertopping es krim yang mereka sulap jadi kue tart- dan dibubuhi beberapa lilin mungil. 

Keempat, sahabat sejak masih mengenakan putih-abu abu yang telah menjadi keluarga sendiri. Perayaan yang ini dilakukan di kos saat aku dalam keadaan tepar dari rutinitas pergi ke lahan. Seperti biasa mereka merayakannya paling telat, berhari- hari setelah tanggal sepuluh. Tidak masalah, kuenya bagus, doraemon.
 
Kelima, seseorang membelikanku tas perempuan. Katanya dia geli melihatku yang tak sefeminim dia. Baiklah.
Keenam, dua buku bacaan kudapatkan dari seseorang. Katanya buat pelengkap koleksi. Mantaplah.

Ketujuh, seorang teman sekaligus sahabat datang dari Surabaya membawakan boneka doraemon yang mungil. Lagi- lagi koleksi doraemon yang sebenarnya  ingin kutumpulkan malah menjadi bertambah. Tidak apa-apa. Tetap suka.

Kedelapan, sebuah stiker dari seseorang lewat akun sosial media. Hanya stiker tanpa dipercantik kata- kata namun telah menginterpretasikan sebuah kalimat "selamat ulang tahun". Aku cekikikan mendapatkannya. Entah mengapa bagiku ini manis sekali.
Terakhir, saya ucapkan terimakasih untuk semuanya.
Terimakasih untuk perayaan, ucapan, hadiah, dan pemalakan traktiran. Semoga Allah membalas dengan setimpal.

See yaaa...

Problem Facing

Today and several times ago. 

Idk why it just make me want to drawl into a dangerous hole for the moment.
or oh, can I disappear spontanly from this awkward condition?
can I survive pretty much any awkward situation? 

Help!!
Help!! 
Please, help!!


Cause tbh, basically, I need help dealing with someone I really want to see, but when I have a chance to meet, I can't talk anything- although just to say hello.

How painfully this awkward- guide me to handle it, I won't let this happen ever again..