Jangan Salah

 
"Beruntungnya orang yang hidup dibalik tulisanmu."

Satu kali. Dua kali. Tiga kali dan untuk keberkian kali kalimat tersebut muncul untukku. Ingin tahu reaksiku? Aku meringis kecut dan ingin memberi tahu sesuatu untukmu:

Begini, bagi sebagian penulis, asmara dan aksara adalah sepaket kesedihan juga kelegaan. Keterpurukan juga pekerjaan. Kamu tahu beberapa penulis besar itu? Lang Leav, Aan, Boy Candra? Mereka lahir dengan ciptaan- ciptaannya yang memilukan dan kental dengan pengharapan pada sosok yang mereka kagumi bertahun- tahun. Tulisan mereka pun telah beredar di toko- toko buku, sudah diterjemahkan ke bahasa lain, tapi tulisan mereka tetap tak menyelamatkan apapun, bukan?

Ingin tahu juga reaksi sosok yang dituju? Sosok- sosok yang dituliskan tidak pernah merasa beruntung seperti kalimat yang kamu katakan melulu untukku. Mereka menganggap penulis hanyalah pencipta omong kosong dengan pilihan diksi paling elok untuk merayu. Bahkan mereka kadang tidak peduli dan tak ingin menyempatkan waktu membaca tulisan yang ditujukan-atau sebenarnya tentang dirinya- apalagi untuk sekadar menyadari. Sedikit. Sedikit sekali jumlahnya yang tidak begitu.

Tragisnya. Bisa jadi sampai penulis menghentikan tulisannya. Orang yang dihidupkan dalam setiap rangkaian kata tetap tidak tahu dan tidak akan pernah tahu. 

Begitulah hidup.
Orang lain melihat seseorang beruntung, tapi yang bersangkutan tak mengira dirinya beruntung.  




 

:)

 
Bersemuka 
yang
selalu
ingin…


Memberi
tanda
pada
penanggalan
duduk
menjadikan
setiap
pusaran
waktu
untuk
menyambut
sebuah
kedatangan
kembali.

Barangkali
bulan
baru..

---

Masih
gemar
membilang
dengan
tenang
sejak
bertahun-
tahun
lalu

:)

AKU INGIN



Segalanya cantik.
Puisinya.
Musikalisasinya.

Terimakasih Tuhan telah menciptakan manusia luar biasa rupa Sapardi Djoko Damono dan Ari Reda, dan mengenalkanku kepada mereka walau hanya melalui karya. Kelak- semoga ada sempat untuk berjumpa.

Amin

Hari Kesepuluh, Bulan Keempat, Dua Ribu Tujuh Belas

Hari kesepuluh- bulan keempat telah dinamai sebagai pengulangan waktu kelahiranku. Pada setiap pengulangannya selalu ada hal mengesankan dengan ritme yang tak pernah sama. Kalau boleh jujur aku takut dengan hari tersebut, bagiku ia seolah berseru tentang kematian, sedangkan aku masih belum menggenggam bekal apapun.

Takut bukan berarti tidak menyukai, sebab realitasnya aku memang bernafas dengan banyak manusia yang menyukai perayaan. Perayaan adalah kebahagian sementara ketakutan hanya perlu dipendam di dasar paling jauh tanpa melupakan cara untuk terus memperbaiki hal-hal cacat dalam diri- itu yang kini aku pegang teguh agar sanggup bersikap menghargai.

Sehingga tak hayal, perayaan itu istimewa. Ucapan ulang tahun pun juga memiliki posisi yang sama. Karena perlu disadari, setiap orang memiliki aneka cara untuk menyunggingkan senyum kita di satu hari- sebuah hari yang menurut kita sakral bagi diri kita sendiri.

Dua ribu tujuh belas.
Kali ini banyak hal yang mengesankan.

Aku dapat kamera mirroless dari orang tua. Tidak seratus persen. Tapi bagiku seratus persen. Apa maksudnya? Jadi begini, semenjak kecil aku dibiasakan oleh orang tua untuk menabung dahulu jika memimpikan apa- apa. Konon biar aku tahu rasanya berusaha dan mencintai sungguh- sungguh apa yang sanggup dibeli saat sudah dimiliki. Yap, seperti barang- barang lainya, mirroless- kuawali dengan menyisihkan uang sakuku sedikit demi sedikit, kemudian digenapi oleh orang tua tepat saat tanggal sepuluh ini, "Kamu ada uang berapa, Ibu Ayah tambahi buat pergi ke toko kamera hari ini?"

Ah, pertanyaan dari ujung telpon tersebut mendadak membuat perasaan meletup- letup bahagia. Singkat cerita, aku pergi ke toko kamera hari itu juga setelah berkeliling mencari yang pas. Lav.

 

Kedua, kakakku- kakak ipar- dan keponakan paling menggemaskan merayakan ulang tahunku di sebuah restaurant yang kami suka. Ini memang sudah jadi rutinitas semenjak kami sama- sama tinggal di Malang.


Ketiga, sahabat kuliah. Kali ini aku ditipu. Salah satu temanku yang sama-sama mendedikasikan diri sebagai penyuka es krim mengajakku ke sebuah kedai es krim. Dia memintaku untuk menemani dan menggilas kesemrawutan pikiran akibat penelitian, karena satu nasib aku setuju dengan ajakannya. Ternyata saat sampai kedai, di lantai dua beberapa teman telah bersorak-sorak menyambutku sambil menyajikan waffle bertopping es krim yang mereka sulap jadi kue tart- dan dibubuhi beberapa lilin mungil. 

Keempat, sahabat sejak masih mengenakan putih-abu abu yang telah menjadi keluarga sendiri. Perayaan yang ini dilakukan di kos saat aku dalam keadaan tepar dari rutinitas pergi ke lahan. Seperti biasa mereka merayakannya paling telat, berhari- hari setelah tanggal sepuluh. Tidak masalah, kuenya bagus, doraemon.
 
Kelima, seseorang membelikanku tas perempuan. Katanya dia geli melihatku yang tak sefeminim dia. Baiklah.
Keenam, dua buku bacaan kudapatkan dari seseorang. Katanya buat pelengkap koleksi. Mantaplah.

Ketujuh, seorang teman sekaligus sahabat datang dari Surabaya membawakan boneka doraemon yang mungil. Lagi- lagi koleksi doraemon yang sebenarnya  ingin kutumpulkan malah menjadi bertambah. Tidak apa-apa. Tetap suka.

Kedelapan, sebuah stiker dari seseorang lewat akun sosial media. Hanya stiker tanpa dipercantik kata- kata namun telah menginterpretasikan sebuah kalimat "selamat ulang tahun". Aku cekikikan mendapatkannya. Entah mengapa bagiku ini manis sekali.
Terakhir, saya ucapkan terimakasih untuk semuanya.
Terimakasih untuk perayaan, ucapan, hadiah, dan pemalakan traktiran. Semoga Allah membalas dengan setimpal.

See yaaa...

Problem Facing

Today and several times ago. 

Idk why it just make me want to drawl into a dangerous hole for the moment.
or oh, can I disappear spontanly from this awkward condition?
can I survive pretty much any awkward situation? 

Help!!
Help!! 
Please, help!!


Cause tbh, basically, I need help dealing with someone I really want to see, but when I have a chance to meet, I can't talk anything- although just to say hello.

How painfully this awkward- guide me to handle it, I won't let this happen ever again..







Sebelas Buku Baru di Rak Buku Kamarku

 
Ayahku- atau sering kupanggil bapak. Terserahku.

Ia adalah orang yang kali pertama mengenalkanku kepada sastra hingga kudapati arti sastra secara pribadi, yakni- merupakan sekumpulan teks yang dililit kata juga bahasa, sanggup memikat dan memiliki makna tertentu jika kita sanggup menggali sihirnya. Serumit itu, secantik itulah sastra (:

Sedikit bocoran. Ia adalah seorang guru sastra dan bahasa Indonesia di salah satu sekolah negeri. Tak bisa dipungkiri, koleksi buku-bukunya telah menggunung. Detail kuingat, waktu itu aku sedang mencari buku di dalam lemari kayu- entah apa, tiba-tiba yang kutemukan adalah kumpulan puisi Chairil Anwar. Kertas pada buku tersebut telah menguning, berbau tak sedap, lapuk, dan bisa dipastikan telah berumur lama. Namun hal itu justru membuatku tertarik. Entah bagaimana.

"Chairil Anwar, siapa? Pujangga? Sastrawan?" kubalik lagi hingga kuloncati banyak lembar untuk melihat biodata di akhir halaman.

"Gila, aku pegang buku orang yang telah mati," kagetku saat mendapati bahwasanya Chairil Anwar telah meninggal empat tahun dari kemerdekaan diumumkan. Manggut- manggut kulari kembali pada bagian sampul, judulnya "Aku Ini Binatang Jalang", setelah tulisan tersebut ada gambar dirinya sedang merokok. Pikiranku mendadak liar. Sesukaku- aku menyimpulkan bahwa Chairil bukanlah pujangga, sastrawan, orang baik, melainkan jalang. Jujur, pada usiaku- yang saat itu masih kelas empat sekolah dasar sesungguhnya tak paham arti sebuah jalang, tapi aku yakin maknanya buruk. Itu saja- dan aku jatuh cinta padanya.

Kemudian aku tak lagi melanjutkan mencari buku yang semestinya kucari. Aku menutup kembali lemari dan membawa buku lusuh tersebut ke dalam kamar. Kubaca semua puisi- puisiya secara runtut walau tak mengerti apa maknanya. Sesekali kubaca mengalun saja, sesekali juga kubaca rupa orang di atas panggung yang membacakan puisi secara lantang dan penuh penghayatan.

Kerawang bekasi adalah puisi dari Chairil yang paling bagus dan kusukai untuk pertama kali. Tidak begitu paham maknanya, namun Chairil seperti ingin dikenang. Hehehe

Kami sekarang mayat
Berikan kami arti
Berjagalah terus di garis batas pernyataan dan impian

Kenang, kenanglah kami
yang tinggal tulang-tulang diliputi debu
Beribu kami terbaring antara Karawang-Bekasi ...................

Beberapa hari kemudian, ia mempergokiku sedang membaca buku Chairil Anwar untuk kesekian kali, lalu memberiku kaset yang berisi puisi- puisi Chairil. Seperti kataku, aku menyukai Kerawang Bekasi, jadi aku hanya senang memutar bagian kerawang bekasi hingga hafal.

Tak sampai disitu saja, kecintaanku terhadap kata, bahasa, dan sastra semakin tak terbendung lagi. Apalagi ia selalu menceritakan perihal indahnya sastra dan karya- karya orang ternama. Ia pun rajin menjejalkan buku- buku sastra sebagai makanan otakku, rutin- setiap dua minggu atau sebulan sekali aku dibelikan buku baru olehnya.

Saat aku di asrama, aku dikirimi paket buku. Terkadang minta pendapatku ingin baca karya siapa, tapi tak banyak- ia lebih suka memilihkannya untukku dan aku tak pernah menggugat. Aku selalu suka dengan buku yang ia berikan. Hingga sampai saat ini, saat aku telah menjadi mahasiswa semester delapan- dan karena empat bulan tak jua pulang, diam-diam ia membelikan sebelas buku baru untukku dan menaruhnya di rak buku kamarku.

Ah,
Aku mencintainya,
Seperti tinta kepada kata dan bahasa.

Terimakasih
(:

Bagian yang Kubenci dari Ibuku

 
Rambutnya yang mulai memutih dan guratan yang ada pada dahinya menegaskan bahwa ia tak muda lagi. Pun keluhnya mengenai ketidaksanggupan duduk dan berdiri lama- lama yang beberapa kali mampir dikokleaku. Rupa kata-kata orang, jika aku menjadi dewasa, maka ia juga akan menjadi tua- dan aku tidak menyukai hukum alam bagian ini.

Kalian tahu siapa yang aku maksud?
Ia adalah seorang yang pernah menyimpanku dalam perut selama tiga puluh enam minggu. Saat itu kita dekat sekali. Hanya dibatasi oleh tembuni. Segala yang ia lakukan- dengarkan- makan- dan sebaganya sama dengan apa yang aku kerjakan. Unik bukan? Sayang aku tak banyak mengingat, melainkan sebatas dekat yang benar- benar lekat.

---

Aku sangat menyayanginya, tapi ada bagian yang kubenci dari dirinya.

---

Kini usiaku sudah sampai pada angka dua. Aku tak mengerti, sedikit- sedikit ia mengatakan "nanti kalau aku mati......" . Ah, bagiku ini menakutkan sekali dan seolah ada bagian dari hati yang disayat dengan gelati. Aku paham saat- saat itu pasti akan tiba, tapi aku mohon jangan dibuat seolah sudah benar- benar telah di depan mata. Aku membenci kata mati yang keluar dari mulutnya. Aku benar- benar membenci.

Seperti pagi itu, setelah sekian bulan aku tak berkesempatan pulang karena kesibukan yang tumpang tindih minta diselesaikan- aku meminta sebuah baju. Ia memang pintar menjahit- tapi untuk kalangan keluarga sendiri. Aku hanya perlu membawakan contoh foto baju yang ingin kumiliki- melihatkannya dari layar persegi panjang ponsel- dan seperti biasa kalau ia tak sibuk- ia akan segera membuatkannya untukku.

Ketika memotong pola, tiba- tiba ia memecah keheningan, "kamu harus belajar menjahit, nanti kalau aku mati, biar bisa bikin baju sendiri." . Sejurus aku menelan ludahku sendiri. Lagi- lagi ada bagian hati yang rasanya tersayat kembali. Air mataku sudah mengumpul ingin dipecahkan- tapi aku tahan dan memilih mengambil napas panjang kemudian berucap, "jangan mati!"

Dua kata itu muncul semaunya sebagai tanggapan dariku. Barangkali memang itu yang ingin dikatakan oleh hatiku melalui mulutku- yang kemudian membuat kami saling terdiam.

---

"Tolong mengertilah, ada ketakutan juga kesakitan saat kau mengucapkan mati. Tolong jangan rajin mengulangi."

---

Aku menuliskan ini sesaat setelah kita berpisah, di dalam travel yang ia pesan untukku. Sebab aku harus kembali ke rantau untuk dua penelitian sebagai usaha pemenuhan mimpi. Aku menuliskannya dengan menangis. Aku tak peduli dengan reaksi orang disampingku- pun sopir yang mampu melihatku dari kaca dalam mobil.

Sekian.


*gelati adalah istilah pisau dalam bahasa jawa

-