Perihnya KAPAN


 
Kapan1/ka·pan/ pron kata tanya untuk menanyakan waktu.

Sedemikian rupa arti kapan tercantum dalam KBBI milik Ayah yang mulai lusuh. Saya rasa arti tersebut masih kurang- masih perlu dibubuhi, misalnya menjadi :

Kapan/ka·pan/ 1pron kata tanya untuk menanyakan waktu; 2kata tanya paling mengerikan karena sering digunakan untuk menanyakan hal- hal yang belum terjadi dan dituntut terjadi segera; 3kata tanya yang menciptakan tingkat kesensitifan tak berperi.

Yap, saya berani menafsirkan seperti itu karena saya adalah korban. Dari beberapa kata tanya seperti siapa, dimana, bagaimana, dan mengapa- bagi saya kapan selalu menimbulkan perasaan risau, khawatir, risih, jengkel, serta takut. Bagaimana tidak? Kapan seolah memiliki tingkatannya sendiri apalagi untuk mahasiswa sebayaku. Simak nih beberapa tingkatannya- baik yang sudah saya rasakan maupun belum (namun telah saya perkirakan).

"Kapan ujian magang?"
"Kapan sempro?"
"Kapan sidang?"
"Kapan wisuda?"
"Kapan ngenalin calonmu ke keluarga?"
"Kapan nikah?"
"Kapan punya pekerjaan?"
"Kapan bisa kasih Ayah dan Ibu seorang cucu?"

.....dan sebagainya perihal kapan. 

Seyakin- yakinnya, lidah yang menggunakan kata tanya kapan dalam sebuah percakapan adalah lidah paling ringan. Seyakin- yakinnya, koklea yang mendengar kata tanya kapan dalam sebuah percakapan adalah koklea paling menderita. 

Sepakat?

Saya ingin kalian berhenti membiarkan kedua koklea kalian jenuh- kemudian berucap "Seratus persen saya sepakat!!"

Ini bukan tentang mencari kawan yang senasib apalagi dukungan, melainkan sebuah kejujuran atas pertanyaan yang telah terkantongi- yang telah membuat beban berlari- lari liar dalam tempurung kepala juga hati- yang telah menghantui malam- malam sebelum tidur juga pagi setelah tidur. Sebab sebenarnya- segalanya akan tiba dengan tepat bukan cepat. Sekali lagi, tidak perlu bermaraton- uji kecepatan- tapi pahamilah mengenai proses dan ketepatan. 

Tolong dicatat !






0 komentar: