PLEASE, JANGAN BERI UANG PENGEMIS !!

PLEASE, JANGAN BERI UANG PENGEMIS !!

Saya berani menuliskan kalimat tersebut dengan huruf kapital bukan karena ingin menghasut siapapun, meskipun bisa jadi tulisan ini akan menimbulkan pro dan kontra, tapi saya tetap ingin menuliskannya. Sekali lagi, tetap ingin menuliskannya.

Begini, menurut saya, jika kita memberi uang kepada pengemis itu setali tiga uang dengan membiasakan mereka untuk malas bekerja atau secara tidak langsung kita ikut andil dalam memupuk kebiasaan mengemis. Kalian tahu perihal pengemis?

Baik, ijinkan saya bercerita. Saya akan mengambil contoh di daerah malang saja yang dekat dan lekat dengan keseharian kita.

Sama seperti kalian, kali pertama hadir di kota bunga saya sangat lugu dan rajin memberi receh kepada pengemis yang mondar- mandir di Kampus Brawijaya. Namun, belakangan saya kesal. Ada seorang pengemis perempuan, usia sekitar empat puluh, saat itu saya dan teman- teman akan memulai asistensi di luar ruangan, tapi ibu tersebut tanpa sopan berputar- putar ditengah lingkaran yang kami buat. Dengan menggerutu dan tanpa pikir panjang saya menamainya "musikalisasi puisi beras".

Bait- bait kesedihannya rupa ini kurang lebih:

"Nak, nak, saya belum makan, minta uangnya buat beli beras."

Yah. Bait tersebut memiliki ritme yang unik (kapan- kapan saya ajarin :p). Lantas teman saya terpaksa menyisakan uang untuk ibu itu. Bukan karena iba melainkan ingin ibunya segera melangkahkan kaki dari tempat kami asistensi. Catatan nih untuk ibu : ini kampus,bukan tempat wisata. Tulung :"

Kasus dua, tidak sengaja, saat itu matahari masih tampak enggan memancarkan cahayanya- saya akan pergi tapi lupa kemana dantiba- tiba mata saya diberi kejutan : sebuah mobil pickup sedang menurunkan beberapa pengemis (beberapa wajahnya saya sudah hafal) di titik- titik tertentu. Nah, dari sini saya curiga, jangan- jangan ada komunitas bernamakan PPI (Persatuan Pengemis Indonesia). Entahlah..

Kasus tiga, pengemis di pintu tikus universitas brawijaya adalah seorang nenek- nenek. Jika mahasiswa lewat ia memasang wajah yang memelas- berharap simpati juga dapat uang. Namun ketika sepi, siapa sangka, saya dan teman saya mendapati beliau sedang merokok, kemudian buru- buru menyembunyikan rokoknya karena tak sengaja keperkok. Saya tetap melewatinya dengan wajah paling sinis : saya benci orang bermuka dua.

Kasus empat. Bukan kasus terakhir. Banyak sebetulnya, tapi saya rasa empat cukup. Kasus ini paling mengagetkan bagi saya. Oya kali ini bukan saya yang berperan- melainkan saya dapat cerita dari seorang kawan SMA saya. Jadi kala itu, sekitar pukul sebelas malam, teman saya tiba di arjosari setelah melakukan perjalanan jauh dari Bandung. Karena jam segitu tidak ada angkutan umum lagi, dia harus menunggu keluarganya menjemput. Ia memilih menunggu di pinggir jalan.

Ketika sedang asik- asiknya mematungkan diri, ia melihat seorang bapak berpakain compang-camping akan menyebrang tanpa menoleh kanan kiri terlebih dahulu. Bergegas teman saya pun lari menarik bapak tersebut, sebab dari arah kanan terdapat mobil kijang yang akan melintas.

Singkat cerita, teman saya berhasil menolong bapak tersebut.

Tapi, bukannya ucapan terimakasih yang dia dapat melainkan sebuah caci maki. Teman saya pun kebingungan dan memilih mengikuti punggung bapak tersebut. Hingga sampailah di sebuah rumah yang bagus dan bertingkat.

"Duh yay, aku gak ngira. Bapak sepuh itu- bajunya robek sana sini- dekil- bauk- tapi rumahnya bagus banget. Dan kamu tahu yay, sambil tetap marah- marah aku disuruh masuk, dibikinkan kopi, kemudian bapaknya bilang kalau dia pengemis. Sumpah aku kaget banget. Katanya sih dia mengemis supaya bisa menghidupi dan membelikan apapun yang anaknya minta- tetapi anaknya kerap tidak mengakui bapaknya didepan teman- temannya dan bahkan bapaknya sering dikucilkan didepan teman-temannya rupa gelandangan gitu. Semacam sok gak kenal gitu sama bapaknya. Sampai malam itu, bapaknya lelah dengan sikap anaknya dan ingin bunuh diri tapi aku tolongin"

Saya manggut- manggut saja.

"Oya kamu tahu, aku dikasih uang dua ratus ribu sama pengemis itu. Awalnya akun nolak tapi dipaksa, yahmau gimana lagi."

Apaaa?
Yap. Kali ini saya sungguh tercengang. Teman saya dapat uang dua ratus ribu dari seorang pengemis. Jujur, saya tidak iri atau berharap teman saya akan membagi tiga puluh persennya kepada saya, tapi tiba- tiba saya ingin marah dan merasa pernah dibohongi pengemis, sejurus saya memutuskan untuk tidak lagi memberi uang kepada pengemis. Sebab saya pikir banyak tempat yang tepat untuk menyalurkan sadaqah, misalnya ke pembangunan tempat- tempat ibadah, panti asuhan, atau lembaga lainnya yang bisa dipercaya.

Selektiflah!!

0 komentar: