Bagian yang Kubenci dari Ibuku

 
Rambutnya yang mulai memutih dan guratan yang ada pada dahinya menegaskan bahwa ia tak muda lagi. Pun keluhnya mengenai ketidaksanggupan duduk dan berdiri lama- lama yang beberapa kali mampir dikokleaku. Rupa kata-kata orang, jika aku menjadi dewasa, maka ia juga akan menjadi tua- dan aku tidak menyukai hukum alam bagian ini.

Kalian tahu siapa yang aku maksud?
Ia adalah seorang yang pernah menyimpanku dalam perut selama tiga puluh enam minggu. Saat itu kita dekat sekali. Hanya dibatasi oleh tembuni. Segala yang ia lakukan- dengarkan- makan- dan sebaganya sama dengan apa yang aku kerjakan. Unik bukan? Sayang aku tak banyak mengingat, melainkan sebatas dekat yang benar- benar lekat.

---

Aku sangat menyayanginya, tapi ada bagian yang kubenci dari dirinya.

---

Kini usiaku sudah sampai pada angka dua. Aku tak mengerti, sedikit- sedikit ia mengatakan "nanti kalau aku mati......" . Ah, bagiku ini menakutkan sekali dan seolah ada bagian dari hati yang disayat dengan gelati. Aku paham saat- saat itu pasti akan tiba, tapi aku mohon jangan dibuat seolah sudah benar- benar telah di depan mata. Aku membenci kata mati yang keluar dari mulutnya. Aku benar- benar membenci.

Seperti pagi itu, setelah sekian bulan aku tak berkesempatan pulang karena kesibukan yang tumpang tindih minta diselesaikan- aku meminta sebuah baju. Ia memang pintar menjahit- tapi untuk kalangan keluarga sendiri. Aku hanya perlu membawakan contoh foto baju yang ingin kumiliki- melihatkannya dari layar persegi panjang ponsel- dan seperti biasa kalau ia tak sibuk- ia akan segera membuatkannya untukku.

Ketika memotong pola, tiba- tiba ia memecah keheningan, "kamu harus belajar menjahit, nanti kalau aku mati, biar bisa bikin baju sendiri." . Sejurus aku menelan ludahku sendiri. Lagi- lagi ada bagian hati yang rasanya tersayat kembali. Air mataku sudah mengumpul ingin dipecahkan- tapi aku tahan dan memilih mengambil napas panjang kemudian berucap, "jangan mati!"

Dua kata itu muncul semaunya sebagai tanggapan dariku. Barangkali memang itu yang ingin dikatakan oleh hatiku melalui mulutku- yang kemudian membuat kami saling terdiam.

---

"Tolong mengertilah, ada ketakutan juga kesakitan saat kau mengucapkan mati. Tolong jangan rajin mengulangi."

---

Aku menuliskan ini sesaat setelah kita berpisah, di dalam travel yang ia pesan untukku. Sebab aku harus kembali ke rantau untuk dua penelitian sebagai usaha pemenuhan mimpi. Aku menuliskannya dengan menangis. Aku tak peduli dengan reaksi orang disampingku- pun sopir yang mampu melihatku dari kaca dalam mobil.

Sekian.


*gelati adalah istilah pisau dalam bahasa jawa

-

0 komentar: