Hari Kesepuluh, Bulan Keempat, Dua Ribu Tujuh Belas

Hari kesepuluh- bulan keempat telah dinamai sebagai pengulangan waktu kelahiranku. Pada setiap pengulangannya selalu ada hal mengesankan dengan ritme yang tak pernah sama. Kalau boleh jujur aku takut dengan hari tersebut, bagiku ia seolah berseru tentang kematian, sedangkan aku masih belum menggenggam bekal apapun.

Takut bukan berarti tidak menyukai, sebab realitasnya aku memang bernafas dengan banyak manusia yang menyukai perayaan. Perayaan adalah kebahagian sementara ketakutan hanya perlu dipendam di dasar paling jauh tanpa melupakan cara untuk terus memperbaiki hal-hal cacat dalam diri- itu yang kini aku pegang teguh agar sanggup bersikap menghargai.

Sehingga tak hayal, perayaan itu istimewa. Ucapan ulang tahun pun juga memiliki posisi yang sama. Karena perlu disadari, setiap orang memiliki aneka cara untuk menyunggingkan senyum kita di satu hari- sebuah hari yang menurut kita sakral bagi diri kita sendiri.

Dua ribu tujuh belas.
Kali ini banyak hal yang mengesankan.

Aku dapat kamera mirroless dari orang tua. Tidak seratus persen. Tapi bagiku seratus persen. Apa maksudnya? Jadi begini, semenjak kecil aku dibiasakan oleh orang tua untuk menabung dahulu jika memimpikan apa- apa. Konon biar aku tahu rasanya berusaha dan mencintai sungguh- sungguh apa yang sanggup dibeli saat sudah dimiliki. Yap, seperti barang- barang lainya, mirroless- kuawali dengan menyisihkan uang sakuku sedikit demi sedikit, kemudian digenapi oleh orang tua tepat saat tanggal sepuluh ini, "Kamu ada uang berapa, Ibu Ayah tambahi buat pergi ke toko kamera hari ini?"

Ah, pertanyaan dari ujung telpon tersebut mendadak membuat perasaan meletup- letup bahagia. Singkat cerita, aku pergi ke toko kamera hari itu juga setelah berkeliling mencari yang pas. Lav.

 

Kedua, kakakku- kakak ipar- dan keponakan paling menggemaskan merayakan ulang tahunku di sebuah restaurant yang kami suka. Ini memang sudah jadi rutinitas semenjak kami sama- sama tinggal di Malang.


Ketiga, sahabat kuliah. Kali ini aku ditipu. Salah satu temanku yang sama-sama mendedikasikan diri sebagai penyuka es krim mengajakku ke sebuah kedai es krim. Dia memintaku untuk menemani dan menggilas kesemrawutan pikiran akibat penelitian, karena satu nasib aku setuju dengan ajakannya. Ternyata saat sampai kedai, di lantai dua beberapa teman telah bersorak-sorak menyambutku sambil menyajikan waffle bertopping es krim yang mereka sulap jadi kue tart- dan dibubuhi beberapa lilin mungil. 

Keempat, sahabat sejak masih mengenakan putih-abu abu yang telah menjadi keluarga sendiri. Perayaan yang ini dilakukan di kos saat aku dalam keadaan tepar dari rutinitas pergi ke lahan. Seperti biasa mereka merayakannya paling telat, berhari- hari setelah tanggal sepuluh. Tidak masalah, kuenya bagus, doraemon.
 
Kelima, seseorang membelikanku tas perempuan. Katanya dia geli melihatku yang tak sefeminim dia. Baiklah.
Keenam, dua buku bacaan kudapatkan dari seseorang. Katanya buat pelengkap koleksi. Mantaplah.

Ketujuh, seorang teman sekaligus sahabat datang dari Surabaya membawakan boneka doraemon yang mungil. Lagi- lagi koleksi doraemon yang sebenarnya  ingin kutumpulkan malah menjadi bertambah. Tidak apa-apa. Tetap suka.

Kedelapan, sebuah stiker dari seseorang lewat akun sosial media. Hanya stiker tanpa dipercantik kata- kata namun telah menginterpretasikan sebuah kalimat "selamat ulang tahun". Aku cekikikan mendapatkannya. Entah mengapa bagiku ini manis sekali.
Terakhir, saya ucapkan terimakasih untuk semuanya.
Terimakasih untuk perayaan, ucapan, hadiah, dan pemalakan traktiran. Semoga Allah membalas dengan setimpal.

See yaaa...

0 komentar: