Sebelas Buku Baru di Rak Buku Kamarku

 
Ayahku- atau sering kupanggil bapak. Terserahku.

Ia adalah orang yang kali pertama mengenalkanku kepada sastra hingga kudapati arti sastra secara pribadi, yakni- merupakan sekumpulan teks yang dililit kata juga bahasa, sanggup memikat dan memiliki makna tertentu jika kita sanggup menggali sihirnya. Serumit itu, secantik itulah sastra (:

Sedikit bocoran. Ia adalah seorang guru sastra dan bahasa Indonesia di salah satu sekolah negeri. Tak bisa dipungkiri, koleksi buku-bukunya telah menggunung. Detail kuingat, waktu itu aku sedang mencari buku di dalam lemari kayu- entah apa, tiba-tiba yang kutemukan adalah kumpulan puisi Chairil Anwar. Kertas pada buku tersebut telah menguning, berbau tak sedap, lapuk, dan bisa dipastikan telah berumur lama. Namun hal itu justru membuatku tertarik. Entah bagaimana.

"Chairil Anwar, siapa? Pujangga? Sastrawan?" kubalik lagi hingga kuloncati banyak lembar untuk melihat biodata di akhir halaman.

"Gila, aku pegang buku orang yang telah mati," kagetku saat mendapati bahwasanya Chairil Anwar telah meninggal empat tahun dari kemerdekaan diumumkan. Manggut- manggut kulari kembali pada bagian sampul, judulnya "Aku Ini Binatang Jalang", setelah tulisan tersebut ada gambar dirinya sedang merokok. Pikiranku mendadak liar. Sesukaku- aku menyimpulkan bahwa Chairil bukanlah pujangga, sastrawan, orang baik, melainkan jalang. Jujur, pada usiaku- yang saat itu masih kelas empat sekolah dasar sesungguhnya tak paham arti sebuah jalang, tapi aku yakin maknanya buruk. Itu saja- dan aku jatuh cinta padanya.

Kemudian aku tak lagi melanjutkan mencari buku yang semestinya kucari. Aku menutup kembali lemari dan membawa buku lusuh tersebut ke dalam kamar. Kubaca semua puisi- puisiya secara runtut walau tak mengerti apa maknanya. Sesekali kubaca mengalun saja, sesekali juga kubaca rupa orang di atas panggung yang membacakan puisi secara lantang dan penuh penghayatan.

Kerawang bekasi adalah puisi dari Chairil yang paling bagus dan kusukai untuk pertama kali. Tidak begitu paham maknanya, namun Chairil seperti ingin dikenang. Hehehe

Kami sekarang mayat
Berikan kami arti
Berjagalah terus di garis batas pernyataan dan impian

Kenang, kenanglah kami
yang tinggal tulang-tulang diliputi debu
Beribu kami terbaring antara Karawang-Bekasi ...................

Beberapa hari kemudian, ia mempergokiku sedang membaca buku Chairil Anwar untuk kesekian kali, lalu memberiku kaset yang berisi puisi- puisi Chairil. Seperti kataku, aku menyukai Kerawang Bekasi, jadi aku hanya senang memutar bagian kerawang bekasi hingga hafal.

Tak sampai disitu saja, kecintaanku terhadap kata, bahasa, dan sastra semakin tak terbendung lagi. Apalagi ia selalu menceritakan perihal indahnya sastra dan karya- karya orang ternama. Ia pun rajin menjejalkan buku- buku sastra sebagai makanan otakku, rutin- setiap dua minggu atau sebulan sekali aku dibelikan buku baru olehnya.

Saat aku di asrama, aku dikirimi paket buku. Terkadang minta pendapatku ingin baca karya siapa, tapi tak banyak- ia lebih suka memilihkannya untukku dan aku tak pernah menggugat. Aku selalu suka dengan buku yang ia berikan. Hingga sampai saat ini, saat aku telah menjadi mahasiswa semester delapan- dan karena empat bulan tak jua pulang, diam-diam ia membelikan sebelas buku baru untukku dan menaruhnya di rak buku kamarku.

Ah,
Aku mencintainya,
Seperti tinta kepada kata dan bahasa.

Terimakasih
(:

0 komentar: