Jangan Salah

 
"Beruntungnya orang yang hidup dibalik tulisanmu."

Satu kali. Dua kali. Tiga kali dan untuk keberkian kali kalimat tersebut muncul untukku. Ingin tahu reaksiku? Aku meringis kecut dan ingin memberi tahu sesuatu untukmu:

Begini, bagi sebagian penulis, asmara dan aksara adalah sepaket kesedihan juga kelegaan. Keterpurukan juga pekerjaan. Kamu tahu beberapa penulis besar itu? Lang Leav, Aan, Boy Candra? Mereka lahir dengan ciptaan- ciptaannya yang memilukan dan kental dengan pengharapan pada sosok yang mereka kagumi bertahun- tahun. Tulisan mereka pun telah beredar di toko- toko buku, sudah diterjemahkan ke bahasa lain, tapi tulisan mereka tetap tak menyelamatkan apapun, bukan?

Ingin tahu juga reaksi sosok yang dituju? Sosok- sosok yang dituliskan tidak pernah merasa beruntung seperti kalimat yang kamu katakan melulu untukku. Mereka menganggap penulis hanyalah pencipta omong kosong dengan pilihan diksi paling elok untuk merayu. Bahkan mereka kadang tidak peduli dan tak ingin menyempatkan waktu membaca tulisan yang ditujukan-atau sebenarnya tentang dirinya- apalagi untuk sekadar menyadari. Sedikit. Sedikit sekali jumlahnya yang tidak begitu.

Tragisnya. Bisa jadi sampai penulis menghentikan tulisannya. Orang yang dihidupkan dalam setiap rangkaian kata tetap tidak tahu dan tidak akan pernah tahu. 

Begitulah hidup.
Orang lain melihat seseorang beruntung, tapi yang bersangkutan tak mengira dirinya beruntung.  




 

0 komentar: